LABUHANBATU Sudutdata.com– Universitas Labuhanbatu melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan pendampingan pemanfaatan limbah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta ikan rucah menjadi pakan pelet unggas alternatif.
Kegiatan berlangsung selama satu bulan, mulai 1 Juli hingga 1 Agustus 2026, bekerja sama dengan Kelompok Tani Merak di Kelurahan Dano Bale, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Program ini diikuti oleh 11 anggota kelompok yang bergerak di bidang peternakan ayam kampung, itik, dan entok. Pendampingan ini disusun untuk menjawab dua tantangan utama yang dihadapi kelompok: tingginya biaya pakan ternak yang harus dibeli dari luar, serta belum optimalnya pemanfaatan sisa pangan dan ikan bernilai jual rendah yang tersedia di lingkungan sekitar.
Melalui pendekatan partisipatif yang menggabungkan sosialisasi, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan produksi, peserta dilatih menguasai seluruh tahapan pengolahan bahan. Kegiatan dibagi menjadi dua tahap utama: pengolahan limbah sisa pangan MBG dan pengolahan ikan rucah.
Pada tahap pertama, peserta diajarkan cara memilah sisa nasi, tahu, dan tempe dari limbah MBG. Bahan yang layak diolah dipisahkan dari benda asing serta sisa pangan yang berjamur, berlendir, berbau busuk, terlalu berminyak atau berbumbu. Setelah ditiriskan dan dipotong kecil, bahan dikeringkan hingga kadar air aman agar tidak mudah berjamur saat disimpan, kemudian digiling dan diayak menjadi tepung seragam.
Tahap kedua berfokus pada pengolahan ikan rucah sebagai sumber protein hewani. Ikan diseleksi berdasarkan kondisi kesegaran, dicuci, direbus, ditiriskan, dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung ikan. Tim pendamping secara tegas mengingatkan bahwa ikan yang sudah membusuk tidak boleh digunakan meskipun akan melalui proses pemanasan dan pengeringan.
Dalam contoh formulasi yang diajarkan, pakan pelet disusun dari 20 persen tepung limbah MBG, 10 persen tepung ikan rucah, 35 persen jagung giling, 33 persen dedak padi, dan 2 persen mineral atau premiks. Seluruh bahan ditimbang secara akurat, dicampur merata, lalu dicetak menggunakan mesin pelet. Tim menegaskan bahwa formulasi ini hanyalah contoh penerapan teknologi, dan perlu disesuaikan dengan jenis ternak, umur, serta tujuan pemeliharaan.
Hasil pendampingan menunjukkan seluruh anggota kelompok telah mampu menjalankan seluruh alur produksi serta mengoperasikan mesin penepung dan pencetak pelet. Produk yang dihasilkan memiliki bentuk seragam, padat, mudah disimpan dan didistribusikan.
Selain itu, pemanfaatan bahan lokal ini telah menurunkan biaya kebutuhan pakan, meskipun persentase penghematan yang pasti masih memerlukan pencatatan rinci atas seluruh komponen biaya seperti transportasi, tenaga kerja, dan pemeliharaan mesin.
Kegiatan ini tidak hanya membawa manfaat ekonomi bagi kelompok, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah yang lebih baik dan sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular: sisa pangan yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah kini berubah menjadi barang bernilai guna, sementara ikan rucah mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi.
Untuk menjaga keberlanjutan program, Kelompok Tani Merak didorong membentuk tim khusus produksi, menyusun aturan penerimaan bahan baku, menjaga kebersihan alat, serta mencatat setiap proses produksi secara teratur. Kelompok juga disarankan melakukan uji laboratorium dan uji coba pemberian pakan secara terbatas sebelum menerapkannya secara menyeluruh.
Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat—Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, serta dukungan penuh dari Pemerintah Kelurahan Dano Bale.
Turut hadir mendampingi kegiatan ini para dosen yang di ketua Yudi Prayoga,SE,M.Si
Anggota 1. M. Yasir Arafat Pohan,SE,M,Sc
Anggota 2 Bayu Eko Broto,SE,MM, juga mahasiswa Muhammad Safii dan Saidina Umar.













